Rabu, 22 Februari 2012

Makalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA)

ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa.
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % – 60 % dari kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % – 30 %. Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2 bulan.


selengkapnya silahkan klik disini

Makalah infeksi saluran kemih (ISK)

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah inflamasi kandung kemih karena menyebarnya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius sehingga menyebabkan infeksi dari uretra, yang dapat disebabkan oleh aliran balik urin dari uretra kedalam kandung kemih (refluks uretrovesikal), kontaminasi fekal, serta pemakaian kateter atau sistoskop (Smeltzer dan Bare, 2002). ISK dapat atau tanpa disertai tanda dan gejala. Infeksi pada setiap bagian traktus urinarius dapat terjadi selama beberapa bulan bahkan bertahun-tahun tanpa gejala. Tempat yang sering mengalami infeksi adalah kandung kemih (sistitis), tetapi uretra (uretritis), prostat (prostatitis), dan ginjal (pielonefritis) juga dapat terkena. Faktor risiko yang umum pada ISK mencakup ketidakmampuan atau kegagalan kandung kemih untuk mengosongkan isinya secara lemgkap, penurunan mekanisme pertahanan alamiah dari pejamu, peralatan yang dipasang pada traktus urinarius, seperti kateter dan prosedur sistoskopi.


selengkapnya silahkan klik disini

Makalah gagal ginjal akut (GGA)

Ginjal merupakan organ sistem urinaria yang terletak disebelah kanan dan kiri tulang belakang di luar rongga peritonium. Setiap ginjal mempunyai panjang 6 sampai 7,5 cm, dan tebal 1,5 sampai 2,5 cm. Pada orang dewasa beratnya kira-kira 140 gr. Ginjal terdiri atas struktur halus kurang lebih 1 juta nefron pada setiap ginjal. Bagian nefron meliputi suatu glomerolus dimana cairan di filtrasikan, dan suatu tubulus yang merupakan tempat cairan diubah menjadi urine dalam perjalannya ke pelvis ginjal, dan selanjutnya ke ureter sampai kandung kemih untuk dikeluarkan dari tubuh. Cairan yang di filtrasikan melalui glomerolus ke dalam kapsula bowman disebut filtrat glomerolus yang dibentuk setiap menit dalam semua nefron kedua ginjal. Proses pembentukan filtrat tersebut dinamakan laju filtrasi glomerolus (LFG / GFR).
Orang normal mempunyai LFG rata-rata 125 ml/mt atau 180 liter per hari. Kurang lebih 80% filtrate terdiri atas air, elektrolit, glukosa,protein dan asam amino di kembalikan ke aliran darah melalui reabsorpsi pada tubulus proksimus. Zat lain seperti urea, kreatinin, hidrogen dan amonia disekresikan melalui urine. Bila glomerolus rusak maka tekanan cairan interstisium diruang bowman dan tubulus disekitarnya akan meningkat secara drastis. Kondisi ini menyebabkan kolapnya nefron-nefron dan kapiler peritubulus (glomerolus) 2 disekitarnya terjadi hipoksia dan cedera atau kematian sel ginjal. Akibatnya fungsi ginjal untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme, mempertahankan keseimbangan air, garam, elektrolit dan juga sebagai kelenjar endokrin akan mengalami gangguan yang disebut gagal ginjal.
Gagal ginjal yang terjadi secara mendadak disebut gagal ginjal akut, biasanya reversibel (dapat disembuhkan). Gagal ginjal akut yaitu hilangnya fungsi ginjal secara mendadak yang mengakibatkan hilangnya kemampuan ginjal mempertahankan homeostasis tubuh. Ditandai peningkatan kreatinin darah 0,5 mg/dl per hari dan peningkatan ureum 10 – 20 mg/dl per hari.


selengkapnya silahkan klik disini

Makalah fraktur

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2003). Tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, 1999). Ketika terjadi patah tulang kerusakan akan terjadi di daerah korteks, pembuluh darah, sumsum tulang, dan jaringan lunak. Akibat hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang di bawah periosteum dengan jaringan tulang yang mengalami fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Ketika terjaid kerusakan tulang, tubuk mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera. Tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan. Hematom yang terbentuk bias menyebabkan peningkatan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk ke dalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler, kemudian menstimulasi histamine pada otot yang ishkemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke jaringan intersisial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf yang bila derlangsung lama bias menyebabkan syndrome comportemen (Black, 1995).


selengkapnya silahkan klik disini

Makalah Emfisema Paru

Emfisema paru adalah distensi abnormal ruang udara di luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli. Kondisi ini merupakan tahap akhir proses yang mengalami kemajuan dengan lambat selama beberapa tahun. Merokok merupakan penyebab utama emfisema. Pada sedikit klien terdapat predisposisi familial terhadap emfisema yang berkaitan dengan abnormalitas protein plasma, defisiensi antitrypsin α-1, yang merupakan suatu enzim inhibitor. Tanpa enzim inhibitor, enzim tertentu akan menghancurkan jaringan paru. Individu yang secara genetik sensitif terhadap faktor-faktor lingkungan (merokok, polusi udara, agen-agen infeksius, alergen), pada waktunya mengalami gejala-gejala obstruktif kronis.
Faktor-faktor penyebab obstruksi jalan napas yaitu inflamasi dan pembengkakan bronki, produksi lendir yang berlebihan, kehilangan rekoil elastik jalan napas, dan kolaps bronkiolus serta redistribusi udara ke alveoli yang berfungsi. Karena dinding alveoli mengalami kerusakan (suatu proses yang dipercepat oleh infeksi kambuhan), area permukaan alveolar yang kontak langsung dengan kapiler paru secara kontinyu berkurang, menyebabkan peningkatan ruang rugi (area paru dimana tidak ada pertukaran gas yang dapat terjadi) dan mengakibatkan kerusakan difusi oksigen. Kerusakan difusi oksigen mengakibatkan hipoksemia. Pada tahap akhir penyakit, eliminasi karbondioksida mengalami kerusakan, mengakibatkan peningkatan tekanan karbondioksida dalam darah arteri (hiperkapnia) dan menyebabkan asidosis respiratorius.


selengkapnya silahkan klik disini

Selasa, 21 Februari 2012

Makalah dislokasi

Stabilitas sendi ditentukan oleh sifat permukaan sendi, lubang dan saluran, jumlah sendi yang menstabilisasi serta kekuatan tonus otot. Semakin banyak ligamen, semakin kuat sendi. Cedera sendi dapat disebabkan oleh aktivitas oleharaga, terjatuh, kecelakaan di rumah dan di tempat kerja dan lain sebagainya. Tiga jenis cedera sendi adalah subluksasi,dislokasi, dan dislokasi fraktur.
Dislokasi sendi terjadi ketika tulang bergeser dari posisinya. Dislokasi sendi biasanya terjadi setelah trauma berat, yang mengganggu kemampuan ligamen menahan tulang di tempatnya. Dislokasi juga dapat terjadi secara kongenital, misalnya panggul kadang dijumpai pada bayi baru lahir (displasia perkembangan panggul). Untuk dislokasi karena trauma, terdapat nyeri yang nyata, pembengkakan, dan kehilangan rentan ggerak sendi. Kadang-kadang suara letupan terdengar atau terasa pada saat terjadinya atau selama pemeriksaan fisik.
Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera. Bila dislokasi tidak ditangani segera, dapat terjadi nekrosis avaskuler (kematian jaringan akibat anoksia dan hilangnya pasokan darah) dan paralisis saraf. Dislokasi sendi pada umumnya terjadi pada jari, bahu, panggul, pergelangan kaki, dan siku. Dislokasi sendi panggul adalah merupakan kasus emergensi yang harus ditangani segera mungkin. Apabila ditangani lebih dari 8 jam setelah trauma akan menyebabkan 40% terjadinya nekrosis avaskular.


selengkapnya silahkan klik disini

Makalah bronkitis kronik

Bronkitis kronik adalah adanya batuk produktif selama 3 bulan dalam 1 tahun selama 2 tahun berturut-turut. Merokok dan pemajanan terhadap polusi adalah penyebab utama. Klien bronkitis kronik lebih rentan terhadap kekambuhan infeksi saluran pernapasan bawah. Infeksi virus, bakteri, dan mikoplasma dapat menyebabkan bronkitis akut. Menghirup udara dingin dapat menyebabkan bronkospasme terhadap individu yang rentan (Smeltzer dan Bare, 2002).
Asap mengiritasi jalan napas mengakibatkan hipersekresi dan inflamasi. Iritasi konstan ini menyebakan jumlah kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel goblet meningkat, fungsi silia menurun, dan lebih banyak lendir yang dihasilkan. Akibatnya, bronkiolus menyempit dan tersumbat. Alveoli dekat bronkiolus menjadi rusak dan membentuk fibrosis mengakibatkan perubahan fungsi makrofag alveolar yang berperan penting dalam menghancurkan partikel asing termasuk bakteri. Klien kemudian lebih rentan terhadap infeksi pernapasan. Penyempitan bronkial lebih lanjut disebabkan perubahan fibrotik yang terjadi dalam jalan napas. Perubahan paru ireversibel mungkin terjadi yang dapat mengakibatkan emfisema dan bronkiektasis (Smeltzer dan Bare, 2002).


selengkapnya silahkan klik disini